Selain mengetahui bagaimana klorin dioksida bekerja membasmi mikroorganisme, penting juga untuk memahami apa yang terjadi setelah proses disinfeksi selesai. Berbeda dengan disinfektan lain yang dapat meninggalkan residu berbahaya, klorin dioksida memiliki jalur reaksi akhir yang perlu dipahami agar penggunaannya dapat dipastikan aman bagi lingkungan dan kesehatan.
Apa Produk Sampingan dari Klorin Dioksida Setelah Disinfeksi ?
Klorin dioksida dan produk reaksinya pada akhirnya kembali menjadi natrium klorida, garam. CIO₂, klorat (CIO3–) dan klorit (CIO₂–) semuanya pada akhirnya dapat terurai menjadi ion klorida dan biasanya berasosiasi kembali dengan kation mineral bumi untuk membentuk garam sederhana (NaCl). Dalam kasus CIO₂, reaksi pertama mengambil elektron dan mereduksinya menjadi ion klorit:
CIO₂- + 4 R(e-) → Cl- + O₂
Reaksi-reaksi ini menunjukkan bahwa CIO₂ dapat direduksi menjadi ion klorida, dan selama proses reaksi ini, ia menerima lima elektron. Ion klorida adalah ion yang paling umum di lingkungan bumi. Jumlah ion klorida yang dikembalikan ke lingkungan akan sama dengan jumlah yang diberikan dari dosis CIO₂ yang diterapkan.

Efektivitas suatu disinfektan pada akhirnya diukur dari seberapa luas spektrum mikroorganisme yang dapat dibasmi. Berikut adalah daftar mikroorganisme yang telah terbukti dapat dieliminasi secara efektif menggunakan klorin dioksida.
Daftar Mikroorganisme yang dapat dibasmi oleh ClO2
| Kelompok mikroorganisme | Contoh organisme | Konsentrasi CIO₂ (mg/L) | Waktu Kontak (menit) | Keterangan teknis |
| Bakteri vegetatif Gram-negatif | Escherichia coli, Salmonella spp., Vibrio cholerae | 0,2-0,4 | 10-20 | Sangat sensitif; indikator utama kualitas mikrobiologi air minum |
| Bakteri vegetatif Gram-positif | Staphylococcus aureus, Listeria monocytogenes | 0,3-0,5 | 15-30 | Lebih resisten dari Gram-negatif; waktu kontak krusial |
| Bakteri oportunistik air | Pseudomonas aeruginosa | 0,4-0,8 | 20-30 | Mampu berhatan di sistem distribusi; CIO₂ efektif terhadap biofilm |
| Bakteri indikator fekal | Koliform total, Enterococcus spp. | 0,2-0,5 | 10-30 | Digunakan sebagai parameter kepatuhan baku mutu Permenkes |
| Virus beramplop | Influenza virus, Coronavirus | 0,2-0,5 | 10-20 | Inaktivasi cepat melalui oksidasi protein amplop |
| Virus tidak veramplop (enterik) | Adenovirus, Norovirus, Enterovirus | 0,8-1,0 | 25-40 | Memerlukan CT tinggi (≈25-33 mg•menit/L) |
| Bakteriofag (indikator virus) | MS2, f2 phage | 0,5-1,0 | 20-30 | Digunakan sebagai surrogate virus dalam uji disinfeksi |
| Ragi (yeast) | Candida albicans | 0,5-1,0 | 10-20 | Sensitivitas sedang; lebih resisten dari bakteri |
| Jamur filament (sel vegetatif) | Aspergillus spp., Penicillium spp. | 1-3 | 20-30 | Efektivitas dipengaruhi suhu dan beban organik |
| Spora jamur | Spora Aspergillus | 2-5 | 30-60 | Struktur spora sangat resisten; sanitasi non-air minum |
| Protozoa flagelata | Giardia lamblia | 0,5-1,5 | 30-60 | Lebih efektif dibanding klorin; butuh filtrasi pendahuluan |
| Protozoa sangat resisten | Cryptosporidium parvum | 2-5 | ≥60 | Efektivitas terbatas; kombinasi filtrasi wajib |
| Bakteri pembentuk spora | Bacillus spp., Clostridium spp. | 05-10 | 60-120 | Sangat resisten; tidak direkomendasikan untuk air minum |
| Mikroorganisme dalam biofilm | Konsorsium mikroba | 0,8-2,0 | 30-60 | CIO₂ unggul dibanding klorin dalam penetrasi biofilm |